DASAR-DASAR PENELITIAN SEJARAH

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

Seseorang yang akan melakukan penelitian sejarah harus memahami metode sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dari peninggalan masa lampau. Metode tersebut terdiri dari serangkaian langkah atau prosedur yang harus ditempuh oleh si peneliti dalam melakukan penelitiannya agar dapat berlangsung secara objektif. Dengan demikian metode sejarah dipandang sebagai alat atau sarana bagi peneliti untuk melaksanakan penelitian dan penulisan sejarah.
Langkah-langkah yang dimaksud adalah :

1. Pemilihan Topik.

Sebelum melakukan peneliian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan topik yang akan diteliti. Topik yang diteliti haruslah merupakan topik yang layak untuk dijadikan bahan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya. Kelayakan topik penelitian dapat dilihat dari ketersediaan sumber yang dapat dijadikan bahan untuk penelitian. Jangan sampai kita menetapkan topik yang menarik tetapi sumbernya ternyata tidak ada. Berbeda dengan penelitian ilmu pengetahuan lainnya, penelitian sejarah sangat tergantung kepada ketersedian sumber. Jadi topik yang diteliti harus merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan informasi yang baru atau ditemukan teori baru.
Pemilihan topik harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Menarik untuk diteliti
2. Asli, bukan merupakan pengulangan
3. Ketersediaan sumber
4. Kedekatan emosional, misalnya yang berhubungan dengan lingkungan sekitar kita
Pemilihan topik ini sangat penting agar peneliti lebih terarah dan terfokus pada masalahnya. Untuk mengarahkan, dalam topik tersebut sebaiknya kita ajukan terlebih dahulu pertanyaan yang akan menjadi masalah yang akan diteliti. Pertanyaan itu meliputi: what (apa), why (mengapa), who (siapa), where (dimana), when (kapan), dan how (bagaimana).

Pertanyaan itu diajukan agar penelitian lebih bersifat ilmiah. Misalnya kita akan meneliti tentang sejarah peristiwa Lengkong. Maka pertanyaan yang dapat kita ajukan adalah : Apa yang dimaksud dengan peristiwa Lengkong ? Mengapa peristiwa itu bisa terjadi ? Siapa tokoh pelaku dalam peristiwa itu ? Dimana terjadinya peristiwa itu ? Kapan terjadinya peristiwa itu ? Bagaimana jalannya peristiwa itu ?

2. Pengumpulan Data/Sumber

Setelah menetapkan topik, langkah selanjutnya adalah pengumpulan data sebagai sumber penelitian. Tahap ini disebut juga dengan heuristik (bhs. Yunani : Heureskein = menemukan).

Tahap heuristik adalah tindakan sejarawan untuk mengumpulkan sumber dan jejak-jejak sejarah yang diperlukan yang terkait dengan masalah yang diteliti. Pencarian dapat dilakukan diberbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, atau dengan mewawancarai tokoh yang menjadi saksi atau mengetahui tentang suatu peristiwa sejarah. Untuk memudahkan penelitian, sumber-sumber sejarah yang begitu banyak dan kompleks perlu diklasifikasikan.

Sumber sejarah adalah segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak menyampaikan kepada kita tentang sesuatu peristiwa dimasa lalu. Sumber sejarah merupakan bukti dan fakta adanya kenyataan sejarah. Tanpa adanya sumber, sejarawan tidak akan bisa berbicara apa-apa tentang masa lalu.

Adapun sumber sejarah berasal dari bukti-bukti sejarah (evidensi), yaitu segala sesuatu yang dapat dipandang sebagai peninggalan sejarah yang dapat memberikan informasi tentang terjadinya peristiwa pada masa lampau. Sumber tersebut dapat berupa sumber lisan, tulisan, dan benda-benda peninggalan sejarah berupa artefak, fosil, prasasti, dan lain-lain.

Sumber lisan yaitu setiap tuturan lisan yang disampaikan oleh orang atau kelompok orang tentang suatu peristiwa nyata yang terjadi pada masa lampau. Sedangkan sumber tulisan, yaitu segala bentuk informasi mengenai peristiwa sejarah yang diperoleh dari berbagai tulisan. Dan sumber yang berupa benda budaya peninggalan sejarah atau artefak adalah segala macam bentuk benda budaya yang diduga pernah digunakan oleh masyarakat manusia pada masa lampau yang dapat memberi informasi tentang peristiwa masa lampau.

Sumber sejarah dapat dibagi kedalam dua jenis, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber asli, berupa kesaksian pelaku atau saksi mata yang hadir dan melihat suatu peristiwa. Sumber ini diperoleh dan dihasilkan dari sisa atau jejak dan orang yang sejaman dengan peristiwa itu. Sumber sekunder adalah sumber yang diperoleh dari tangan kedua, yaitu orang yang tahu suatu peristiwa, tetapi tidak hadir dan melihat peristiwa itu berlangsung. Dapat pula ditambahkan bahwa sumber sejarah dapat berupa sumber formal dan non formal.

Menemukan sumber sejarah tidaklah mudah, mengingat ada peristiwa yang sedikit sekali meninggalkan jejak, bahkan karena sesuatu hal tidak meninggalkan jejak sama sekali. Namun ada pula peristiwa yang meninggalkan jejak yang melimpah. Selain itu sumber sejarah ada yang dengan cepat ditemukan dan diketahui, tetapi ada pula yang setelah beberapa waktu yang lama kemudian baru diketahui. Hal ini bisa terjadi karena jarak waktu. Semakin dekat jarak waktu antara sipeneliti dengan peristiwa sejarah, semakin banyak sumber sejarah yang dapat diperoleh. Sebaliknya, semakin jauh jarak waktunya, semakin langka dan sedikit sumber sejarah yang didapatkan.

3. Verifikasi

Sebelum data dan sumber sejarah yang terkumpul digunakan sebagai pendukung penelitian, terlebih dahulu dilakukan Verifikasi (pengujian), baik dari segi kebenaran materi atau isi maupun keaslian dari data sumber tersebut. Dalam ilmu sejarah tahap ini disebut kritik. Kritik sejarah tersebut meliputi kritik intern yaitu kritik terhadap isi dan materi, dan kritik ekstern yaitu kritik terhadap keaslian sumber-sumber tersebut.

Kritik intern adalah penilaian keakuratan atau keautentikan terhadap materi sumber sejarah. Didalam proses analisa terhadap suatu dokumen, sejarawan harus selalu memikirkan unsur-unsur yang relevan didalam dokumen itu sendiri secara keseluruhan. Unsur didalam dokumen dianggap relevan dan dapat dipercaya (kredibel) apabila unsur itu paling dekat dengan apa yang telah terjadi. Identifikasi terhadap sipembuat dokumen atau sumber sejarah pun perlu dilakukan untuk menguji keautentikannya.
Kritik ekstern umumnya menyangkut keaslian bahan yang digunakan dalam pembuatan sumber sejarah, seperti prasasti, dokumen, dan naskah. Untuk membedakan itu suatu tipuan dari dokumen asli, sejarawan dapat menggunakan pengujian yang biasa digunakan didalam penyelidikan polisi dan kehakiman. Bentuk penelitian yang dapat dilakukan sejarawan misalnya tentang waktu pembuatan dokumen, atau penelitian tentang bahan materi pembuatan.

4. Interpretasi

Setelah memberikan kritik terhadap sumber, langkah berikutnya adalah memberikan penafsiran atau interpretasi.
Pada tahap ini dapat berlaku sifat subjektifitas, karena sejarawan akan melihat sumber sejarah dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan penafsiran terhadap suatu peristiwa yang sama mungkin juga terjadi.
Perbedaan tersebut terjadi karena diantara para sejarawan memiliki pandangan, wawasan, ketertarikan, ideology, kepentingan, latar belakang sosial dan tujuan yang berbeda.

Interpretasi pada dasarnya merupakan langkah yang dilakukan dalam menjawab permasalahan dari topik yang diteliti. Fakta yang dihasilkan melalui kritik harus dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya, terutama dalam konteks hubungan sebab akibat atau adanya hubungan yang sangat berarti/signifikan.

5. Historiografi

Historiografi atau penulisan sejarah merupakan langkah bagaimana sejarawan mengkomunikasikan hasil penelitiannya untuk diketahui umum. Sejarawan melakukan penyusunan kisah sejarah sesuai dengan norma-norma dalam disiplin ilmu sejarah. Diantaranya yang penting adalah harus kronologis. Disamping itu harus diupayakan seobjektif mungkin.

Dalam menulis sejarah berarti seorang sejarawan merekonstruksi sumber-sumber sejarah yang telah ditemukannya menjadi suatu cerita sejarah. Kemampuan menulis merupakan syarat yang penting bagi seorang sejarawan. Ia harus mampu berimajinasi dalam menyusun cerita sejarah. Kemampuan berimajinasi dalam menulis menunjukan bahwa menulis sejarah mengandung unsur seni. Bahkan apabila tulisan sejarah itu mampu mengajak pembacanya ikut menerawang kemasa silam dapat mengandung kesan berekreasi kemasa lampau.
Bentuk-bentuk historiografi antara lain dapat berupa: Narasi yang isinya lebih banyak bercerita sesuai dengan apa yang diinformasikan oleh sumber sejarah. Deskriptif yang isinya lebih detail dan kompleks dibandingkan dengan narasi. Dan Analistis, yang isinya lebih banyak berorientasi pada penelaahan masalah. Sehingga tidak sekedar bercerita tetapi banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dengan tinjauan berbagai aspek.

Penulisan yang baik adalah gabungan antar unsur naratif, deskriptif dan analitis. Bentuk gabungan ini akan menampilkan unsur cerita, detail sumber dan analisa terhadap peristiwa sejarah.


Bentuk-bentuk penelitian


Dilihat dari teknik pengumpulan data, penelitian sejarah dibagi dalam dua bentuk, yaitu penelitian Lapangan dan penelitian kepustakaan.

1. Penelitian Lapangan

Dalam melakukan penelitian lapangan seorang sejarawan datang ketempat terjadinya peristiwa sejarah atau tempat ditemukannya peninggalan-peninggalan sejarah (situs). Bila peninggalan tersebut telah disimpan di museum, maka penelitian dilakukan di museum. Dan apabila benda-benda peninggalan itu masih terpendam didalam tanah, maka sejarawan harus melakukan penggalian atau ekskavasi. Jika seorang sejarawan memerlukan keterangan langsung dari pelaku atau saksi sejarah yang masih hidup sebagai sumber lisan maka bisa dilakukan melalui metode wawancara (interview)

2. Penelitian kepustakaan

Penelitian kepustakaan disebut juga dengan penelitian dokumenter. Dalam melakukan penelitian dokumenter, seorang peneliti memfokuskan perhatiannya untuk memperoleh data-data tertulis yang disimpan di museum atau perpustakaan. Untuk mendapatkan data dan informasi yang benar dan akurat, peneliti dapat melakukan studi komparatif, yaitu membandingkan sumber yang satu dengan sumber yang lainnya yang berkenaan dengan suatu hal.
Posted on 11:27 by ariwinata and filed under | 0 Comments »

PERKEMBANGAN PENULISAN SEJARAH INDONESIA

PERKEMBANGAN PENULISAN SEJARAH INDONESIA
Penulisan sejarah (historiografi) di Indonesia umumnya digolongkan kedalam tiga tahapan perkembangan yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern Indonesia. Dan setiap historiografi tersebut masing-masing memililiki ciri-ciri yang berbeda dan jenis yang dihasilkanpun berbeda.

Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional adalah tradisi penulisan sejarah yang berlaku pada masa setelah masyarakat Indonesia mengenal tulisan, baik pada Zaman Hindu-Budha maupun pada Zaman Islam. Ada pada abad 4 M sampai abad 17 M.
Hasil tulisan sejarah dari masa ini sering disebut sebagai naskah.
Contoh Historiografi tradisional:
Babad Tanah Jawi, Babad Kraton, Babad Diponegoro, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Silsilah Raja Perak, Hikayat Tanah Hitu, Kronik Banjarmasin, dsb.

Adapun ciri-ciri historiografi tradisional yaitu:
• Penulisannya bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Berisi masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa. Menyangkut raja dan kehidupan istana.
• Memiliki subjektifitas yang tinggi sebab penulis hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan dan permintaan sang raja.
• Bersifat melegitimasi (melegalkan/mensahkan) suatu kekuasaan sehingga seringkali anakronitis (tidak cocok)
• Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam genealogi (silsilah) tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil biografis.
• Pada umumnya tidak disusun secara ilmiah tetapi sering kali data-datanya bercampur dengan unsur mitos dan realitas (penuh dengan unsur mitos).
• Sumber-sumber datanya sulit untuk ditelusuri kembali bahkan terkadang mustahil untuk dibuktikan.
• Dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat dimana naskah tersebut ditulis sehingga merupakan hasil kebudayaan suatu masyarakat.
• Cenderung menampilkan unsur politik semata untuk menujukkan kejayaan dan kekuasaan sang raja.

Banyak sejarawan yang awalnya sampai tahun 1960-an tidak mau menggunakan naskah-naskah tersebut sebagai sumber atau referensi karya ilmiah. Akan tetapi, pada perkembangannya karena melalui berbagai penelitian membuktikan bahwa bayak hal yang ditulis dalam naskah tradisional tersebut dapat terungkap pula dalam sumber-sumber sejarah yang lain maka mereka mulai menganggap bahwa naskah/ historiografi tradisional tersebut dapat pula dijadikan sumber atau acuan sejarah.


Historiografi Kolonial
Ada pada abad 17-abad 20 M.
Historiografi kolonial merupakan historiografi warisan kolonial dan penulisannya digunakan untuk kepentingan penjajah.
Ciri-cirinya:
- Tujuannya untuk memperkuat kekuasaan mereka di Indonesia. Jadi disusun untuk membenarkan penguasaan bangsa mereka terhadap bangsa pribumi (Indonesia). Sehingga untuk kepentingan tersebut mereka melupakan pertimbangan ilmiah.
- Selain itu semuanya didominasi untuk tindakan dan politik kolonial.
- Historiografi kolonial hanya mengungkapkan mengenai orang-orang Belanda dan peristiwa di negeri Belanda serta mengagung-agungkan peran orang Belanda sedangkan orang-orang Indonesia hanya dijadikan sebagai objek.
- Historiografi kolonial memandang peristiwa menggunakan sudut pandang kolonial. Sifat historiografi kolonial eropasentris.
- Ditujukan untuk melemahkan semanangat para pejuang atau rakyat Indonesia.

Seperti contohya: Orang Belanda menyebut ”pemberontakan” bagi setiap perlawanan yang dilakukan oleh daerah untuk melawan kekuasaan Belanda/ kekuasaan asing yang menduduki tanah airnya. Oleh Belanda itu dianggap sebagai ”perlawanan terhadap kekuasaannya yang sah sebagai pemilik Indonesia”. Seperti Perlawanan yang dilakukan oleh Diponegoro, Belanda menganggap itu sebagai ”Pemberontakan Diponegoro”.

Telah ada upaya untuk melakukan kritik terhadap beberapa tulisan orang Belanda seperti tulisan Geschiedenis van Nederlandsche-Indie (Sejarah Hindia Belanda) oleh Stapel yang dikritik J.C van Leur. Salah satu ungkapannya”jangan melihat kehidupan masyarakat hanya dari atas geladak kapal saja”, artinya jangan menuliskan masyarakat Hindia hanya dari sudut penguasa saja dengan mengabaikan sumber-sumber pribumi sehingga peranan pribumi tidak nampak sementara yang ada hanyalah aktivitas bangsa Belanda di Hindia.
Tetapi justru pendapat Stapel yang tenar di kalangan masyarakat Indonesia, salah satu pendapatnya yang masih dipercaya dan melekat dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia adalah bahwa bangsa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun (1595-1545). Hal ini berarti bahwa bangsa Indonesia dijajah sejak tahun 1595 sewaktu Cornelis de Houtman berangkat dari negeri Belanda untuk mencari pulau penghasil rempah-rempah di dunia Timur. Dia sampai di Indonesia tahun 1596. Indonesia masih mengalami kekuasaan VOC (1602-1619), Inggris (1811-1816), Van den Bosh (1816-1830), Penghapusan Tanam Paksa(1830-1870), Liberalisme (1870-1900), Politik Etis (1900-1922), Sistem Administrasi Belanda (1922-1942), Jepang (1942-1945).


Historiografi Modern Indonesia/ historiografi nasional
Ada pada abad 20 M- sekarang. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia maka masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang relatif besar terutama untuk kepentingan pembelajaran di sekolah sekaligus untuk sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan serta jati diri bangsa Indonesia.
Ditandai dengan:
- Mulai muncul gerakan Indonesianisasi dalam berbagai bidang sehingga istilah-istilah asing khususnya istilah Belanda mulai diindonesiakan selain itu buku-buku berbahasa Belanda sebagian mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
- Mulai Penulisan sejarah Indonesia yang berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia dengan sudut pandang nasional.
- Orang-orang dan bangsa Indonesialah yang menjadi subjek/pembuat sejarah, mereka tidak lagi hanya sebagai objek seperti pada historiografi kolonial.
- Penulisan buku sejarah Indonesia yang baru awalnya hanya sekedar menukar posisi antara tokoh Belanda dan tokoh Indonesia.
Jika awalnya tokoh Belanda sebagai pahlawan sementara orang pribumi sebagai penjahat, maka dengan adanya Indonesianisasi maka kedudukannya terbalik dimana orang Indonesia sebagai pahlawan dan orang Belanda sebagai penjahat tetapi alur ceritanya tetap sama.

Keadaaan yang demikian membuat para sejarawan dan pengamat sejarah terdorong untuk mengadakan ”Kongres Sejarah Nasional” yang pertama yaitu pada tahun 1957. Pada kongres kedua namanya diubah menjadi ”Seminar Nasional Sejarah”, membicarakan mengenai rencana untuk pembuatan sebuah buku sejarah nasional baru dengan harapan dapat dijadikan semacam buku referensi.

Oleh karena itu penulisan sejarah yang seharusnya adalah:
1. Sebuah penulisan yang tidak sekedar mengubah pendekatan dari eropasentris menjadi indonesiasentris, tetapi juga menampilkan hal-hal baru yang sebelumnya belum sempat terungkap.
2. Penulisan sejarah dengan cara yang konvensional (yang hanya mengandalkan naskah sebagai sumber sejarah) yang bersifat naratif, deskriptif, kedaerahan, serta tema-tema politik dan penguasa diganti dengan cara penulisan sejarah yang kritis (struktural analitis)
3. Menggunakan pendekatan multidimensional.
Caranya yaitu dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial untuk menjelaskan kejadiaan sejarah sesuai dengan dimensinya dengan menggunakan sumber-sumber yang lebih beragam daripada masa sebelumnya.
4. Mengungkapkan dinamika masyarakat Indonesia dari berbagai aspek kehidupan yang kemudian dapat dijadikan bahan kajian untuk memperkaya penulisan sejarah Indonesia.
Sebagai contoh:
Tulisan berjudul ”Pemberontakan Petani di Banten 1888” oleh Sartono Kartodirdjo, seorang sejarawan Indonesia pertama yang menggunakan metode multidimensional dalam penulisannya.

Penulisan sejarah Indonesia modern bertujuan untuk melakukan perbaikan dengan menggantiklan beberapa hal seperti:
• Adanya pandangan religio-magis serta kosmologis seperti tercermin dalam babad atau hikayat diganti dengan pandangan empiris-ilmiah.
• Adanya pandangan etnosentrisme diganti dengan pandangan nationsentris.
• Adanya pandangan sejarah kolonial-elitis diganti dengan sejarah bangsa Indonesia secara keseluruhan yang mencakup berbagai lapisan sosial.
Posted on 17:09 by ariwinata and filed under | 1 Comments »

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri



Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri

1. Dia Pergi dengan bersahaja. Meninggalkan berkah & penampunan. Meninngalkan jejak pahala. Membawa mimpi surga ! SELAMAT IDUL FITRI, mohon maaf lahir & batin

2. Satu yang pasti dalam hidup: kita akan kembali kepada-Nya. Mumpung masih hidup Ayo sirahturahmi di hari yang fitri. SELAMAT IDUL FITRI, mohon maaf lahir & batin.

3. Masa aktif Hidup anda hampir berakhir, saldo dosa anda makin meningkat, di hari yang fitri ini raih kesempatan untuk meningkatkan saldo Iman. Isi ulang dengan sirahturahmi. SELAMAT IDUL FITRI, mohon maaf lahir & batin

4. Terselip khilaf dalam candaku. Tergores luka dalam tawaku, terbelit pilu dalam tingkahku, tersinggung rasa dalam bicaraku. Hari kemenangan telah tiba, moga segala dosa & kesalahan kita terampuni. Mari bersama kita bersihkan dihari yang fitri. SELAMAT IDUL FITRI, mohon maaf lahir & batin

5. Allahu Akbar Allahu Akbar
Takbir mulai bergema, menyeruak ke angkasa menembus gelapnya malamSeiring hati bahagia, kembali pada fitrahSelamat idul fitri 1431 H, mohon maaf lahir dan batin

6. Takbir, tahmid, tahlil tlah berkumandang. Memecah keheningan malam, mengantar rasa syukur padaNya. Esok pagi menyambut hari yang fitri, selamat hari lebaran 1431 H taqaballahu mina wa minkum, mohon maaf lahir dan batin

7. Kegembiraan tlah bergema memecah keheningan. Kalimat-kalimat suci pertanda bahagia, umat islam menyambut kemenangan. Melukar belenggu dosa, melepas ikatan dengki, menebar cinta serta maaf dan memaafkan. Selamat idul fitri 1431 H, taqaballahu mina wa minkum

8. Tiada gembira yang menggelora, tiada senang yang mengangkasa, selain kita telah kembali pada fitrah dan ampunanNya. Taqaballahu mina wa minkum, selamat idul fitri 1431 H, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin

Silahkan kalau ada yang mau menambahkan!!!!

Posted on 01:55 by ariwinata and filed under | 0 Comments »

Islam on Indonesia

Peta Pergerakan Islam di Indonesia Abad 21
ditulis oleh Bang One

Dalam usaha menemukan jati dirinya, ditubuh umat islam di indonesia telah tumbuh dan berkembang beragam pergerakan islam sebagai usaha melakukan perubahan dan menentukan masa depannya. Perbedaan organisasi ataupun pergerakan islam berubah dari sekedar perbedaan madzab ataupun furu’iyah dalam ibadah menjadi perbedaan pada metode ataupun orientasinya. Dengan menelaah ulang konteks kesejarahan pergerakan islam Indonesia pada awal abad 20, dapat dikatagorikan dalam dua kelompok besar yaitu kelompok skeptif dan progresif.

Dari kacamata penulis kelompok skeptif adalah kelompok yang enggan melakukan perubahan sosial dan keagamaan, tidak melakukan transformatif ataupun ijtihad, dan memegang kuat tradisi budaya yang dalam hal ini bisa dinisbatkan pada Organisasi Islam yang mencerminkan akar rumput tradisi masyarakat Indonesia yaitu Nahdhlatul Ulama. Sedangkan disisi yang lain kelompok progresif diwakili kelompok yang menghendaki perubahan dalam tataran sosial, politik, pendidikan ataupun ijtihad keagamaan yang hal ini bisa diwakili Muhammadiyah, Persis, Syarikat Islam dan Al Irsyad. Walaupun terdiri atas beragam organisasi namun bisa dikatakan secara garis besar platform maupun ketokohan keempat organisasi tersebut masih saling beririsan secara signifikan.

Namun dipenghujung abad 20 dan memasuki abad 21, pengaruh globalisasi juga memberikan warna tersendiri pada dinamika organisasi dan pergerakan islam di Indonesia. Organisasi islam yang telah mapan secara kultural, struktural maupun institusional yaitu Nahdhlatul Ulama dan Muhammadiyah harus siap bersaing dengan dinamika pergerakan islam yang semakin berkembang dengan tumbuhnya pergerakan islam yang mengadopsi atapun menyatakan sebagai bagian ataupun cabang dari organisasi islam dari luar Indonesia. Diantaranya Hizbut Tahrir, Salafiyah, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, ataupun gerakan bawah tanah Jamaah Jihad walaupun kurang menunjukkan eksistensinya dipermukaan.

Interaksi umat islam Indonesia dengan wacana keagamaan dan dinamikanya tidak mungkin dipisahkan dengan dinamika di luar negeri khususnya Timur Tengah. Karena bagaimanapun organisasi islam yang telah mapan seperti Nahdhlatul Ulama maupun Muhammadiyah pun terinspirasi dan bisa dikatakan mengadopsi perkembangan wacana keagamaan yang berkembang disana. Dalam tubuh Nahdhlatul Ulama sendiri pengaruh gerakan-gerakan Tarekat yang mengadopsi dari luar negeriseperti Naqsabandiyah dan Tijaniyah yang berpusat dan berkembang di Syiriah dan Mesir cukup signifikan, begitu pula pergerakan islam Al-Haramain dengan tokohnya Syaikh Muhammad Maliki yang berkembang di Nejd menjadi rujukan utama para ulama di Nahdhliyin. Sedangkan Muhammadiyah pada awal-awal berdirinya tidak terlepas mengadopsi ide-ide pembaharuan islam moderat yang dipelopori Syaikh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Abdul Wahab, hingga Jamaludin Al-Afghani ataupun Muhammad Iqbal. Dan dari perkembangannya Muhammadiyah sendiri sebenarnya telah cukup berkembang dan berpengaruh di negara-negara Jiran seperti Malaysia dan Singapura.

Karena itu terlalu dipaksakan apabila terkesan adanya pemisahan antara pergerakan islam Nasional dan Transnasional, dengan memaksakan pandangan yang berhak hidup dan berkembang di Indonesia dan dapat diterimat umat islam Indonesia adalah Ormas islam Asli Indonesia, sedangkan yang lainnya yang berbau TransNasional tidak layak untuk mengembangkan keorganisasian ataupun pengaruhnya di Indonesia. Apalagi Negara ini memberikan sepenuhnya hak kemerdekaan dalam berorganisasi dan menyampaikan pendapat bagi siapapun dan kelompok manapun selama masih dalam batas-batas mengakui Negara Kesatuan Indonesia dan tidak melakukan tindakan-tindakan destruktif yang merusak kepentingan nasional serta kehidupan masyarakatnya.

Selanjutnya bagaimana perkembangan Ormas-ormas ataupun pergerakan islam di Indonesia saat ini. Dalam kacamata penulis, untuk mengklasifikasikan peta pergerakan islam tidak ada salahnya mengadopsi pemetaan dinamika pergerakan islam berdasarkan model teori-teori perubahan sosial yang bersifat kemasyrakatan atau dalam paradigma sosiologi. Teori paradigma perubahan sosial dicetuskan pertama kali oleh seorang sosiolog pendidikan Brasil Paulo Freire pada era 70-an, yang kemudian berkembang dalam tataran peta paradigma sosiologi ideologis yang dikembangkan Burnell Morgan diera 80-an. Dari para analis sosiologi ini madzab perubahan sosial akan memetakan bagaimana karakter secara ideologis, metode serta sasaran yang hendak diwujudkan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menghendaki perubahan sosial, yang kemudian bisa dibagi kedalam 3 madzab.

Madzab pertama adalah perubahan pasif dan dominatif. Kerangka pola fikir dalam golongan ini adalah lebih dekat dengan pola gerakan salafiyah dalam pergerakan islam. Sedangkan dalam tataran metode kesadaran sosial disebut dengan kesadaran magis. Penganut madzab ini lebih dekat dengan kelompok islam yang hanya menyandarkan orientasi gerak dibidang ubudiyah dan ansih dengan dinamika politik dan sosial. Dalam pandangan ini perubahan sosial tidak mampu mengetahui hubungan atau kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya untuk melakukan perubahan sosial secara humanis maupun struktural untuk mewujudkan perubahan tatanan sosial secara global.

Organisasi islam akar rumput seperti Nahdhlatul Ulama dan kalangan tradisional serta derivatnya cukup dominan mewakili madzab ini. Karena kerangka orientasi model organisasi seperti ini adalah lebih pada upaya mempertahankan dominasi kultur dan tradisi yang telah mapan dan dianut masyarakat Indonesia, begitu pula dalam keagamaan. Sedangkan pengembangan lembaga politik, sosial ataupun pendidikan dalam naungan Ormas ini lebih pada figuritas dan kepunyaan pribadi ketimbang kekuatan usaha Ormasnya. Sedangkan perubahan sosial yang dikehendaki masih belum kelihatan, baik secara falsafah maupun konsepnya sehingga perubahan sosial dalam pandangan ini mengikuti perubahan yang terjadi berdasarkan faktor-faktor eksternal, natural ataupun magical.

Madzab ini juga sangat dominan dianut oleh kelompok Salafiyah atau Wahabiyah yang mengadopsi madzab keagamaan dari Arab Saudi, karena pola kemasyarakatan yang pasif dan masih didominasi Kerajaan dalam politik, sehingga tidak menuntut adanya dinamika sosial politik. Selain itu Jamaah Tabligh yang begitu tradisional dalam penerapan faham keagamaan juga secara dominan mengikuti cara pandang ini.

Madzab kedua adalah perubahan Reformatif. Dalam pandangan yang kedua ini perubahan sosial lebih dititik beratkan pada perubahan humanis, yaitu untuk membangun kesadaran individu dalam aspek manusiawi sebagai akar dari perubahan sosial yang hendak diwujudkan, sehingga juga disebut dengan perubahan sosial dengan kesadaran naif. Man power development menjadi sesuatu yang diharapkan untuk mewujudkan perubahan. Sedangkan secara struktural, mereka akan mengikuti pola dan struktur yang sudah ada dan dianggap sebagai sesuatu yang sudah baik, mapan dan benar dan akan berubah sesuai dengan karakter perubahan manusianya. Sehingga pandangan ini akan mengusahakan perubahan sosial secara reformatif.

Dalam pandangan madzab ini model pergerakan islam modern seperti Muhammadiyah dan derivatnya cukup mewakili. Dengan program pendidikan dan amal islam yang terkelolah dengan baik dan dikembangkan secara progressif, organisasi ini berusaha untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam usahanya merealisasikan perubahan kehidupan sosial, ekomnomi, pendidikan, politik yang lebih baik. Ini dibuktikan dengan kontribusi besar para tokohnya dalam usahanya ikut serta menentukan pondasi negara ini walaupun dalam tataran nasionalisme. Sebut saja Ki Bagus Hadi Kusumo dan Kasman Singodimejo merupakan perwakilan dari kelompok islam modern, yang menjadi founding father Indonesia, ataupun Panglima besar Jenderal Soedirman yang menjadi pelopor pendirian dan pemimpin TNI, serta tokoh-tokohnya yang berhasil melakukan reformasi bidang pendidikan di negara ini.

Adapun pergerakan islam lain yang juga condong menggunakan pendekatan paradigma perubahan perubahan sosial model ini adalah pergerakan islam Tarbiyah. Gerakan ini memiliki orientasi utama untuk membangun konsep dan struktur berdasarkan islam dalam semua bidang dengan jargonnya AlIslam huwal Hal dan dengan cakupan global, yang mereka sebut dengan Ustadziatul ‘Alam. Namun dalam tataran geraknya mereka menggunakan tahapan-tahapan perubahan yang disebut dengan Mihwar. Sehingga gerakan ini cenderung untuk melakukan perubahan secara humanis dan reformatif islam.

Pergerakan islam ini cukup menarik untuk dicermati karena pengaruhnya yang berkembang secara signifikan. Dalam tatanan reformasi politik pergerakan ini membangun sayap politiknya melalui Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, yang sekarang memiliki kemampuan politik yang cukup signifikan sebagai kekuatan partai islam terbesar. Begitu pula dalam pengembangan amal islam keagamaan, pendidikan, kesehatan dan bidang sosial lainnya dengan pendirian Pesantren, Sekolah Islam, Lembaga Sosial dan Zakat serta berbagai misi sosial dan kesehatan ataupun budaya yang cukup mewarnai. Dalam pembangunan SDM, pergerakan islam ini juga cukup dominan memberikan warna keislaman di lembaga-lembaga pusat pendidikan tinggi serta lembaga riset IPTEK nasional.

Sedangkan Madzab ketiga adalah perubahan transformatif. Dalam pandangan ini perubahan sosial dibangun dengan kesadaran kritis revolusioner. Dalam paradigma kesadaran kritis, inti permasalahan dan perubahan sosial adalah pada struktural dalam sistem tatanan sosial, politik, ekonomi, budaya dan bidang lainnya. Sehingga perubahan sosial dapat diwujudkan melalui dialektika thesa dan antithesa untuk membangun struktur yang secara fundamen baru dan terlepas dari struktur yang ada yang dianggap rusak dan penyebab ketidakadilan.

Untuk saat ini meskipun masih belum signifikan pengaruhnya tetapi pergerakan islam revolusioner seperti Jamaah Jihad yang dalam hal ini bisa terwakili oleh Majelis Mujahidin dan Ansharuttauhid bisa mewakili cara pandang perubahan sosial dalam paradigma ini. Jika kita tengok dalam sejarah panjang pergerakan islam nasional, pergerakan islam dengan model ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup signifikan di Indonesia. Dengan latar belakang Gerakan Darul Islam DI/TII yang didirikan KartoSuwiryo pada tahun 1947, yang mampu memberikan perlawanan dengan pemberontakan yang terbesar dan terlama dalam masa-masa revolusi. Selain di sebagian Jawa Tengah dan Jawa Barat, gerakan ini juga berkembang derivatnya dengan NII yang berkembang di Aceh, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Kalimantan Selatan, sehingga pemberontakan untuk mendirikan Negara Islam untuk melawan pemerintahan RI dan menggantikan bentuk Negara nasionalis NKRI ini mampu bertahan tidak kurang dari 15 tahun.

Dalam bentuk perlawanan yang lebih dapat dipandang vandalisme saat ini, sisa-sisa NII yang mengatas namakan JI ataupun Al-Qaedah Indonesia, dengan pengaruh organisasi Jihad luar negeri mereka seolah-olah mendapatkan ruh baru. Dengan mengadopsi pemikiran fundamentalisme ideologis Jamaah Islamiyah yang berkembang di Mesir yang kemudian melakukan tranformasi kedalam jaringan Al-Qaedah, sempalan pergerakan organisasi jihad internasional ini ingin menunjukkan eksistensinya dengan berbagai serangan teror terhadap kepentingan-kepentingan asing di negeri ini. Selain itu dalam pandangan mereka pemerintahan yang tidak berdasarkan ideologis dan hukum islam adalah wajib dihancurkan dan diperangi.

Selain model revolusi dengan kekerasan, pergerakan islam lain yang tidak menggunakan jalur kekerasan fisik tetapi dengan revolusi pemikiran yang bisa dikatagorikan menganut paradigma perubahan transformatif revolusioner ini adalah Hizbut Tahrir. Sebagai pergerakan islam yang mengklaim sebagai partai politik internasional yang berpusat di Yordania dan diisukan hijrah ke Inggris sebagai markas pusatnya ini menunjukkan geliatnya di negara-negara demokratis Eropa, sebagian Asia Tengah serta Indonesia. Wacana dan doktrin revolusi pemikiran pergerakan islam ini dibangun dengan diskusi-diskusi, buku, booklet, ataupun selebaran-selebaran dialogis untuk memberikan pengaruh dan menanamkan keyakinannya kepada umat islam untuk mengikuti pola pikir yang mereka anut, terutama dari golongan terdidik.

Metode revolusioner dalam mewujudkan perubahan sosial yang ditempuh Hizbut Tahrir dapat dikatagorikan dalam dua jalan utama. Jalan pertama untuk melakukan revolusi struktural adalah dengan merebut kepemimpinan yang mereka sebut dengan Thulabun Nusroh, atau pencarian perlindungan. Dengan jalan lobi-lobi dan diskusi politik dengan pemimpin-pemimpin negara, masyarakat ataupun keagamaan mereka berusaha memberikan pengaruh pemikiran, sehingga diantara para pemimpin itu bersedia untuk menempuh jalan dan cara pandang mereka untuk bersama-sama mereka mewujudkan terbentuknya daulah islam Khilafah Islamiyah dan tegaknya syariat islam. Sedangkan jalan yang kedua adalah dengan Ash-Shira’ ul-Fikra untuk melakukan revolusi sosial, yaitu dengan memberikan pengaruh pemikiran secara luas kepada masyarakat bawah dengan cara menghancurkan wibawa pemerintahan, dan mempertontonkan kekurangan, kegagalan ataupun kebobrokan-kebobrokan kepemimpinan negara serta menganggap seluruh pemerintahan negeri-negeri islam saat ini adalah Darul Kufr alias dianggap Negara kafir. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat pada pemimpin-pemimpin pemerintahan terutama negeri-negeri islam, sehingga pada akhirnya akan mampu menggerakkan masyarakat untuk bersedia bergerak bersama HT melakukan revolusi terhadap rezim yang berkuasa.

Dari ketiga klasifikasi madzab perubahan sosial ini tidak berdasarkan nilai-nilai dogmatis keagamaan bahwasanya madzab yang yang satu lebih benar ketimbang madzab lainnya, namun lebih berdasarkan metode dan mekanisme transfer nilai yang ditawarkan dan dikembangkan masing-masing madzab. Madzab-madzab ini akan menentukan bagaimana platform pergerakan islam, kepemimpinan, serta pola fikir yang dianut pengikutnya yang menjadi nilai idealisme yang diperjuangkan untuk melakukan perubahan sosial.

Demikian mungkin sedikit gambaran peta pergerakan islam di Indonesia yang ada dari sudut pandang kacamata penulis, yang pasti silahkan pilih gerbong yang sesuai dengan hati nurani, fastabiqul khairat dan marilah berusaha introspeksi untuk senantiasa melakukan perbaikan dalam diri kita pribadi, dan menjauhkan diri dari keyakinan dan pemikiran destruktif yang justru menjauhkan islam menuju kebangkitannya, dan menghilangkan jati dirinya sebagai Rahmatan lil ‘alamin. Adapun jika ada kesalahan yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan yang dianut masing-masing pergerakan islam yang ada, penulis minta maaf dan siap untuk mengkoreksi dan merevisi tulisan singkat ini.
Posted on 04:25 by ariwinata and filed under | 0 Comments »

Karbala When Skies Wept Blood

Tragedi Karbala 10 Muharram 61 H

Pada hari Asyura, 10 Muharram 61 H, terjadilah Tragedi Karbala.
Peristiwa Karbala yang menimpa Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib (sa)
jauh sebelumnya telah diberitakan oleh malaikat Jibril kepada
Rasulullah saw. Ummu Salamah isteri tercinta Rasulullah saw
menuturkan: Ketika hendak tidur Rasulullah saw gelisah, ia berbaring
kemudian bangun, berbaring dan bangun lagi. Aku bertanya kepadanya:
Mengapa engkau gelisah ya Rasulallah? Rasulullah saw menjawab: “Baru
saja Jibril datang kepadaku memberitakan bahwa Al-Husein akan terbunuh
di Karbala. Ia membawa tanah ini dan simpanlah tanah ini. Jika tanah
ini kelak telah berubah warna menjadi merah pertanda Al-Husein telah
terbunuh.” Ummu Salamah menyimpan tanah itu.

Al-Husein (sa) mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat Nabi saw yang
masih hidup saat itu untuk bergabung bersamanya. Sebelum meninggalkan
kota Madinah, Al-Husein (sa) pergi berziarah ke pusara kakeknya
Rasulullah saw. Di kubur Kakeknya ia membaca doa dan menangis hingga
larut malam dan tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi Rasulullah saw
datang kepadanya, memeluknya dan mencium keningnya. Dalam mimpinya
Rasulullah saw berpesan: “Wahai Husein, ayahmu, ibumu dan kakakmu
menyampaikan salam padamu, mereka rindu kepadamu ingin segera berjumpa
denganmu. Wahai Husein, tidak lama lagi kamu akan menyusulku dengan
kesyahidanmu.” Lalu Al-Husein terbangun.

Di kubur kakeknya Al-Husein berjanji dan bertekah untuk menegakkan
keadilan dan kebenaran, menyampaikan Islam sebagaimana yang
dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Ia mendatangi
keluarganya dan mengajak sebagian sahabat-sahabat Nabi saw yang masih
hidup saat itu untuk bergabung bersamanya.

Ketika akan meninggalkan kota Madinah menuju ke Irak, Al-Husein pamet
kepada Ummu Salamah, ia menangis dan mengantarkannya dengan linangan
air mata, ia terkenang saat bersama Rasulullah saw dan teringat akan
pesan yang disampaikan kepadanya.

Kini Al-Husein dan rombongannya berangkat menuju Irak. Karena lelahnya
perjalanan yang cukup jauh, Al-Husein dan rombongan yang tidak lebih
dari 73 orang berhenti di padang Karbala. Rombongan Al-Husein (sa)
terdiri dari keluarganya dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka
memancangkan kemah-kemah di padang Karbala untuk berteduh dari
sengatan panas matahari dan istirahat karena lelahnya perjalanan yang
cukup jauh.

Deru suara kuda terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara itu
semakin jelas bahwa suara itu adalah suara deru kuda pasukan Ibnu
Ziyad yang jumlahnya ribuan. Rombongan Al-Husein yang jumlahnya tidak
lebih dari 73 orang terdiri dari: anak-anak kecil dan wanita dari
keluarganya, dan sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. Mereka harus
berhadapan dengan ribuan pasukan Ibnu Ziyad gubernur pilihan Yazid bin
Muawiyah.

Karena jauhnya perjalanan Al-Husein dan rombongannya kehabisan bekal.
Mereka dalam keadaan haus dan lapar. Sebagian dari mereka berusaha
mengambil air dari sungai Efrat, tapi mereka dihadang oleh pasukan
Ibnu Ziyah. Mereka tetap berusaha keras mengambil air untuk
dipersembahkan kepada Al-Husein dan keluarganya serta rombongan yang
kehausan. Tapi mereka gagal karena diserang oleh anak-anak panah
pasukan Ibnu Ziyah, dan mereka berguguran menjadi syuhada’.

10 Muharram 61 H, pasukan Ibnu Ziyad mulai melakukan serangan pada
rombongan Al-Husein yang dalam keadaan haus dan lapar. Salah seorang
pasukan melancarkan anak panah pada leher anak Al-Husein yang masih
bayi dan berada dalam pangkuan ibunya, sehingga mengalirlah darah dari
lehernya dan meninggallah bayi yang tak berdosa itu.

Pada sore hari 10 Muharram 61 H, pasukan Al-Husein banyak yang
berguguran. Sehingga Al-Husein (sa) tinggallah seorang diri dan
beberapa anak-anak dan wanita. Dalam keadaan haus dan lapar di depan
pasukan Ibnu Ziyad , Al-Husein (sa) berkata: “Bukalah hati nurani
kalian, bukankah aku adalah putera Fatimah dan cucu Rasulullah saw.
Pandanglah aku baik-baik, bukankah baju yang aku pakai adalah baju
Rasululah saw.”

Tapi sayang seribu sayang karena emeng-emeng hadiah jabatan dan materi
dari Ibnu Ziyah dan Yazid bin Muawiyah, kecuali Al-Hurr pasukan Ibnu
Ziyad tidak memperdulikan ajakan Al-Husein (sa), mereka menyerang Al-
Husein yang tinggal seorang diri. Serangan itu disaksikan oleh Zainab
(adiknya), Syaherbanu (isterinya), Ali bin Husein (puteranya), dan
rombongan yang masih hidup yang terdiri dari wanita dan anak-anak.
Pasukan Ibnu Ziyad melancarkan anak-anak panah pada tubuh Al-Husein,
dan darah mengalir dari tubuhnya yang sudah lemah. Akhirnya Al-Husein
terjatuh di tengah-tengah mayat para syuhada’ dari pasukannya.

Melihat Al-Husein terjatuh dan tak berdaya, Syimir dari pasukan Ibnu
Ziyah turun dari kudanya, menginjak-injakkan kakinya ke dada Al-
Husein, lalu menduduki dadanya dan menghunus pedang, kemudian
menyembelih leher Al-Husein yang dalam kehausan, sehingga terputuslah
lehernya dari tubuhnya. Menyaksikan peristiwa yang tragis ini Zainab
dan isterinya serta anak-anak kecil menangis dan menjerit tragis.
Tidak hanya itu kekejaman Syimir, ia melemparkan kepala Al-Husein yang
berlumuran ke kemah Zainab. Semakin histeris tangisan Zainab dan
isterinya menyaksikan kepala Al-Husein yang berlumuran darah berada di
dekatnya.

Zainab menangis dan menjerit, jeritannya memecah suasana duka. Ia
merintih sambil berkata: Oh… Husein, dahulu aku menyaksikan kakakku Al-
Hasan meninggal diracun oleh orang terdekatnya, dan kini aku harus
menyaksikan kepergianmu dibantai dan disembelih dalam keadaan haus dan
lapar.
Ya Allah, ya Rasullallah, saksikan semua ini. Al-Husein telah
meninggalkan kami dibantai di Karbala dalam keadaan haus dan lapar.
Dibantai oleh ummatmu yang mengharapkan syafaatmu. Ya Allah, ya
Rasulallah Akankah mereka memperoleh syafaatmu sementara mereka
menghinakan keluargamu, dan membantai Al-Husein yang paling engkau
cintai?

10 Muharram 61 H, bersamaan akan tenggelamnya matahari, mega merah pun
mewarnai kemerahan u*** barat, saat itulah tanah Karbala memerah,
banjiri darah Al-Husein (sa) dan para syuhada’ Karbala. Bumi menangis,
langit dan penghuinya berduka atas kepergian Al-Husein (sa) pejuang
kebenaran dan keadilan.

Dari sebagian sumber riwayat menuturkan bahwa sejak kepergian Al-
Husein dari Madinah Ummu Salamah selalu memperhatikan tanah yang
dititipkan oleh Rasulullah saw, saat Al-Husein terbunuh tanah itu
berubah warna menjadi merah, Ummu Salamah menangis, teringat pesan-
pesan Rasulullah saw dan terkenang saat-saat bersamanya.

Kini rombongan Al-Husein (sa) yang masih hidup tinggallah: Zainab dan
isterinya, Ali putra Al-Husein yang sedang sakit, dan sisa
rombongannya yang masih hidup yang terdiri dari anak-anak dan wanita.
Mereka diikat rantai dan digiring dalam keadaan haus dan lapar, dari
karbala menuju kantor gubernur Ibnu Ziyad yang kemudian mereka
digiring ke istana Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Dalam keadaan
lemah, lapar dan haus, mereka dirantai dan digiring di sepanjang jalan
kota Kufah. Mereka disaksikan oleh penduduk Kufah yang berbaris di
sepanjang jalan. Mereka menundukkan kepala, malu dengan sorotan mata
yang memandangi mereka.

Kini sisa rombongan Al-Husein digiring ke istana Yazid bin Muawiyah.
Sebagian pasukan membawa kepala Al-Husein untuk dipersembahkan kepada
Yazid. Dengan mempersembahkan kepala Al-Husein dan tawanan wanita dan
anak kecil yang sebagian dari mereka adalah cucu dan keturunan Nabi
saw, mereka berharap mendapatkan imbalan jabatan dan materi
sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Yazid bin Muawiyah. Kini tiba
saatnya Yazid, Ibnu Ziyad, para pejabat dan pasukannya berpesta di
istana, merayakan kemenangannya.

Duhai para pejuang kebenaran dan keadilan, hati siapa yang tidak
teriris dan berduka menyaksikan tragedi Karbala?

Duhai para pecinta Rasulullah dan keluarganya, hati siapa yang tidak
merasa sedih dan iba menyaksikan keluarga Nabi saw dirantai dan
digiring di sepanjang kota Kufah
dalam keadaan haus dan lapar lalu dihinakan di istana Yazid bin
Muawiyah?

Duhai kaum muslimin dan ummat Rasulullah saw, peristiwa apalagi dalam
sejarah manusia yang lebih tragis dari peristiwa Karbala?

Duhai orang-orang yang lemah dan tertindas, hati siapa yang tidak
tesentuh dan terbangkitkan oleh semangat darah Al-Husein dan para
syuhada’ Karbala?

Duhai kaum muslimin dan mukminin ummat Rasulullah saw, masih adakah
hati yang keberatan menyampaikan salam dan ziarah kepada Al-Husein
(sa) dan para syuhada’ Karbala?

Mari kaum muslimin, para pecinta kebenaran dan keadilan kita ucapkan
salam:
اَلسَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلى
اَوْلادِ الْحُسَيْنِ وَعَلى اَصْحابِ الْحُسَيْنِ.
Assalâmu ‘alal Husayn wa ‘alâ Aliyibnil Husayn wa ‘alâ awlâdil Husayn
wa ‘alâ ashhâbil Husayn.

Salam pada Al-Husein, salam pada Ali bin Husein, salam pada semua
putera Al-Husein, dan salam pada semua sahabat Al-Husein.

Bagi yang berminat ziarah Asyura yang lengkap dengan tek arabnya dan
doa sesudah ziarah Asyura, silahkan download di bagian File:
http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia

Yang berminat Amalan Praktis dan doa-doa pilihan, silahkan klik :
http://shalatdoa.blogspot.com
http://groups.google.com/group/keluarga-bahagia
http://groups.yahoo.com/group/Shalat-Doa

Yang berminat info situs2 periklanan dan usaha2 online, klik di sini :
http://infor-indo.blogspot.com
http://pengusahaonline.com/?id=Syamsuri


Posted on 03:43 by ariwinata and filed under | 0 Comments »

Prison Break Best TV Series in Amerika

Prison Break
Plot: Due to a political conspiracy an innocent man is sent to death row and his only hope is his brother who makes it his mission to deliberately get himself sent to the same prison in order to break the both of them out from the inside out.

Prison Break adalah serial drama Amerika Serikat yang ditayangkan pertama kali di Fox Broadcasting Company pada tanggal 29 Agustus 2005.

Cerita serial ini berkisah tentang orang yang ditangkap karena kejahatan yang ia tidak lakukannya dan saudara kandungnya membantunya lepas dari hukumannya. Di Indonesia, serial Prison Break sempat diputar di ANTV pada pertengahan 2007 dan kembali ditayangkan oleh RCTI. Serial ini dibuat oleh Paul Scheuring. Produser film ini sekarang Paul Scheuring, Matt Olmstead, Kevin Hooks, Marty Adelstein, Dawn Parouse, Neal Moritz dan Brett Ratner. Musik tema serial ini dibuat oleh Ramin Djawadi, dan dinominasikan untuk Primetime Emmy Award tahun 2006.

Pemain dan Karakter
Pemeran Prison Break Amaury Nolasco, Robert Knepper, Wade Williams, Sarah Wayne Callies, Wentworth Miller bersama produser eksekutif Matt Olmstead.


Berikut ini adalah beberapa karakter utama dalam serial Prison Break. Untuk daftar lengkapnya dapat dilihat di Daftar karakter Prison Break. Dari tokoh-tokoh ini, hanya dua karakter protagonis, Lincoln Burrows dan Michael Scofield, yang muncul di setiap episode selama 4 season.

Wentworth Miller sebagai Michael Scofield (Season 1–4): Michael adalah adik Lincoln yang bekerja sebagai insinyur sebelum mendedikasikan seluruh waktunya untuk membebaskan Lincoln. Michael membuat rencana matang untuk melarikan diri bersama kakakknya dari penjara Fox River. Satu minggu sebelum produksi dimulai, Miller melakukan audisi untuk peran ini dan membuat Scheuring terkesan; ia ditunjuk untuk memerankan Michael Scofield pada hari berikutnya.

Dominic Purcell sebagai Lincoln Burrows (Season 1–4): Lincoln dijebak untuk pembunuhan Terence Steadman, adik wakil presiden Amerika kala itu. Purcell terpilih tiga hari sebelum produksi. Purcell melakukan audisi ketika ia masih menjalankan peran sebagai Tommy Ravetto dalam serial North Shore. Sejak berperan dalam serial John Doe, Purcell telah memiliki hubungan baik dengan Fox. Meski demikian, saat ia melakukan audisi untuk episode pertama, Scheuring tidak terkesan karena potongan rambut dan warna kulit Purcell yang gelap. Namun, akting Purcell akhirnya mengantarkan ia mendapatkan peran ini. Purcell tiba di lokasi pada hari pertama syuting dengan kepala plontos, yang mengejutkan Scheuring karena kemiripan antara dua orang pemeran utama serial ini.

Robin Tunney sebagai Veronica Donovan (Season 1–2): Veronica adalah pengacara yang juga teman masa kecil Michael dan Lincoln yang membantu kakak beradik ini mengungkapkan konspirasi dalam kasus Lincoln.

Marshall Allman sebagai Lincoln "L. J." Burrows Jr. (Season 1–4): L. J. adalah putra Lincoln yang telah beranjak remaja dan sangat terpengaruh akan hukuman mati yang menimpa ayahnya. Ia terpaksa bersembunyi setelah menjadi target orang-orang yang menginginkan kematian Lincoln.

Amaury Nolasco sebagai Fernando Sucre (Season 1–4): Sucre menjalin persahabatan dengan Michael sejak mereka menjadi teman satu sel di penjara Fox River. Cerita dari karakter ini memfokuskan pada keinginannya untuk bersatu lagi dengan kekasihnya, Maricruz. Ketika menerima naskah untuk episode pilot, yang pertama terlintas dalam pikiran Nolasco adalah ini merupakan "salah satu episode pilot gagal yang tidak diinginkan oleh stasiun televisi" karena hampir semua episode pilot untuk serial lain sudah mulai diproduksi pada saat itu. Mengakui bahwa ia tidak suka membaca, Nolasco terkesan karena ternyata ceritanya tidak mudah ditebak. Setelah audisi terakhirnya, Paul Scheuring mengatakan bahwa ia adalah pilihan utama dan akhirnya mendapatkan peran ini.

Robert Knepper sebagai Theodore "T-Bag" Bagwell (Season 1–4): T-Bag muncul di semua season sebagai psikopat yang sadis, kasar dan manipulatif. T-Bag tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak segan melakukan apa saja pada mereka yang menghalanginya.

Peter Stormare sebagai John Abruzzi (Season 1-2): Perannya sebagai bos mafia Chicago, Abruzzi menjadi figur yang disegani di penjara Fox River. Ia setuju menyediakan pesawat untuk pelarian Michael asalkan Michael memberitahukan lokasi saksi mata kejahatannya, Otto Fibonacci. Ia muncul di paruh pertama season 1 dan muncul beberapa kali di akhir season dan awal season 2.

Rockmond Dunbar sebagai Benjamin Miles "C-Note" Franklin (Season 1–2, 4): Demi menemui keluarganya, C-Note memeras Michael di Fox River agar bisa bergabung dengan tim yang hendak melarikan diri.

Wade Williams sebagai Brad Bellick (Season 1–4): Muncul di semua season, Bellick pada awalnya adalah pimpinan penjaga penjara Fox River. Setelah membaca naskah episode pilot, Williams sebenarnya tidak ingin memerankan Bellick karena karaternya "kejam dan keji". Apalagi ia adalah ayah dari anak yang berumur empat tahun. Namun, manajernya membujuk Williams untuk ikut audisi dan akhirnya ia pun mendapatkan peran sebagai Bellick.

Sarah Wayne Callies sebagai Sara Tancredi (Season 1–2, 4): Sara adalah dokter yang bekerja di penjara Fox River dan putri dari Gubernur Frank Tancredi, yang berhubungan dengan orang-orang yang menjebak Lincoln. Sara jatuh cinta pada Michael dan membantu pelariannya. Callies adalah aktris pertama yang dilhat produser pada audisi untuk peran Sara Tancredi dan juga menjadi pemeran pertama yang terpilih dalam jajaran kasting.

Paul Adelstein sebagai Paul Kellerman (Season 1–2, 4): Kellerman pada awalnya adalah agen rahasia yang bekerja untuk Wakil Presiden dan tugasnya adalah memastikan bahwa eksekusi Lincoln Burrows berjalan lancar. Kemudian, karakternya berubah dari musuh dan menjadi sekutu bagi Michael dan Lincoln.

William Fichtner sebagai Alexander Mahone (Season 2–4): Sebagai agen FBI, tugas Mahone adalah menemukan para pelarian. Secara intelektual, Mahone sangat mirip dengan Michael dan latar belakangnya mulai terkuak seiring berjalannya serial ini. Di season ketiga Mahone dipenjara di Sona dengan Michael dan terus menjadi sekutunya sampai season terakhir.

Chris Vance sebagai James Whistler (Season 3-4): Whistler dipenjara di Sona karena membunuh putra Walikota. Ia menjadi salah satu karakter utama di season tiga dan muncul di awal season empat.

Robert Wisdom sebagai Norman "Lechero" St. John (Season 3): Muncul sebagai salah satu karakter utama di season 3, Lechero adalah narapidana yang menguasai Sona dan seorang gembong narkoba Panama.

Danay Garcia sebagai Sofia Lugo (Season 3-4): Sofia pada awal season 3 adalah kekasih Whistler. Hubungannya dengan Lincoln mulai terlihat pada paruh akhir season 3. Dan pada awal season 4 ia mulai berkencan dengan Lincoln Burrows.

Jodi Lyn O'Keefe sebagai Gretchen Morgan (Season 3–4): Mulanya ia adalah "Susan B. Anthony". Gretchen adalah agen Company yang ditugaskan untuk membebaskan James Whistler.

Michael Rapaport sebagai Donald Self (Season 4): Muncul di season 4, Self adalah Agen Keamanan Negara yang membentuk tim untuk menghancurkan Company.

Sinopsis
Season 1

Season pertama menceritakan tentang pembebasan Lincoln Burrows (Dominic Purcell), yang menghadapi hukuman mati dengan tuduhan membunuh Terrence Steadman (Jeff Perry), saudara kandung wakil presiden Amerika. Lincoln ditahan di penjara Fox River State sembari menunggu eksekusinya. Adik Lincoln, seorang insinyur jenius, Michael Scofield (Wentworth Miller), percaya bahwa Lincoln tidak bersalah dan membuat sebuah rencana pelarian. Unutk mendapatkan akses penuh ke penjara Fox Riverm Michael melakukan perampokan dan membiarkan dirinya tertangkap. Di Fox River, Michael berteman dengan dokter penjara Sara Tancredi (Sarah Wayne Callies) dan berpura-pura mengidap diabetes tipe 1 supaya ia mendapatkan akses harian ke klinik. Perjuangan Linc dan Michael juga dibantu oleh sahabat mereka Veronica Donovan (Robin Tunney), seorang pengacara yang menyelidiki konspirasi apa yang menjebloskan Linc ke dalam penjara. Namun, sepak terjang mereka selalu dibayangi agen The Company. Company adalah organisasi yang menjebak Lincoln, dan mereka melakukan ini karena ayah Lincoln, Aldo Burrows, yang dulunya bekerja untuk Company. Lincoln dan Michael, bersama enam narapidana lainnya, Fernando Sucre (Amaury Nolasco), Theodore "T-Bag" Bagwell (Robert Knepper), Benjamin Miles "C-Note" Franklin (Rockmond Dunbar), David "Tweener" Apolskis (Lane Garrison), John Abruzzi (Peter Stormare), and Charles "Haywire" Patoshik (Silas Weir Mitchell), yang kemudian dikenal dengan sebutan Fox River Eight, berhasil melarikan diri dari Fox River di episode akhir season 1.

Season 2
Season kedua bermula delapan jam sejak pelarian. Fox River Eight berpisah dan memulai perjalanan masing-masing dengan pihak berwajib yang terus membayangi mereka. Brad Bellick (Wade Williams) dipecat dari Fox River dan mengejar mereka untuk mendapatkan hadiah uang. Beberapa narapidana bertemu kembali untuk mendapatkan sejumlah besar uang hasil rampokan narapidana lain yang dikubur di suatu tempat. Agen Federal Alexander Mahone (William Fichtner) diberi tugas untuk melacak dan menangkap kedelapan narapidana, namun ternyata ia juga bekerja untuk Company, yang menginginkan kedelapan orang tersebut mati. Ketika Sara mendapati ayahnya, Gubernur Frank Tancredi, meninggal, ia bertemu Michael, dan tetap bersama mereka sementara Michael dan Lincoln berusaha membuktikan keterlibatan sang Presiden dengan Company. Untuk memastikan keselamatan kakak-beradik itu, Sara membiarkan dirinya tertangkap dan menghadapi persidangan. Dalam persidangan tersebut, kesaksian mantan agen rahasia Paul Kellerman (Paul Adelstein)-yang tadinya bekerja untuk sang Presiden (yang dikontrol Company)- membebaskan Lincoln dan Sara. Beberapa dari Fox River Eight terbunuh atau tertangkap, tetapi Linc dan Michael berhasil sampai ke Panama. Namun kemudian Michael, T-Bag, Mahone, dan Bellick ditangkap pihak berwajib Panama dan dipenjara di Sona.

Season 3
Season ketiga bercerita tentang Michael di Sona dan Lincoln yang ada di luar, yaitu di Panama. Sona dalah penjara yang dikuasai oleh narapidana dan dijaga hanya dari luar sejak kerusuhan yang terjadi setahun sebelumnya. Lincoln segera dikontak oleh Susan alias Gretchen Morgan (agen Company yang bertanggung jawab atas kegiatan di Panama) yang menculik anaknya LJ (Marshall Allman) dan Sara Tancredi (Sarah Wayne Callies), wanita yang dicintai Michael. Gretchen mengatakan pada Lincoln bahwa Company menginginkan Scofield membebaskan James Whistler (Chris Vance) dari Sona. Episode selanjutnya mengisahkan tentang bagaimana Michael dan Whistler mencoba membuat rencana pelarian di bawah tekanan penjara yang sangat berbeda dari Fox River. sementara itu Lincoln juga berusaha membuat kesepakatan dengan Gretchen Morgan (Jodi Lyn O'Keefe). Sucre mendapatkan pekerjaan di Sona untuk membantu Michael dalam menjalankan rencana pelariannya. Ketika Lincoln berusaha membebaskan Sara dan LJ, Gretchen mengirimkan potongan kepala Sara sebagai peringatan. Di akhir season, Michael dan Whistler berhasil keluar bersama Mahone, an narapidana lain McGrady tertinggal, juga T-Bag dan Bellick. Identitas Sucre terungkap oleh salah satu penjaga penjara dan ia dipenjara di Sona sesaat setelah pelarian Michael. LJ dan Sofia (yang ditangkap sebagai jaminan) ditukar untuk Whistler, dan Michael hendak membalas dendam atas kematian Sara.

Season 4
Plot utama season keempat adalah tentang tim yang direkrut oleh Agen Keamanan Nasional (Homeland Security), Don Self (Michael Rapaport) untuk mendapatkan Scylla. Meski pada awalnya tim tersebut yakin bahwa Scylla adalah "buku hitam" Company, kemudian terungkap bahwa Scylla memuat informasi tentang sumber energi yang dapat diperbaharui. Paruh pertama season keempat, tim ini berhasil mendapatkan kartu untuk mengakses Scylla dan menerobos ke markas Company. Sara teryata masih hidup, Bellick terbunuh dan Self ternyata agen ganda dan menjual Scylla ke penawar tertinggi. Meski enggan, Lincoln memutuskan untuk membantu Company untuk mendapatkan Scylla kembali, sementara Michael didiagnosis menderita semacam kanker otak. Ia dirawat dan dioperasi oleh Company. Kemudian ia mengetahui bahwa ibunya, Christina, masih hidup dan menjadi agen Company, yang juga memburu Scylla untuk menjualnya ke penawar tertinggi. Season ini berakhir dengan diserahkannya Scylla ke pihak berwenang, Jenderal Krantz dan Company dijatuhkan, Christina terbunuh, dan nama mereka semua dibersihkan. Dalam dua episode terakhir, yang menceritakan apa yang terjadi selama empat tahun berselang yang ada di episode terakhir, menjelaskan bagaimana Sara ditahan di penjara Miami dan bagaimana Michael berusaha membebaskan Sara sebelum suruhan Jenderal Krantz (yang melibatkan T-Bag dan Gretchen) membunuhnya.
Posted on 03:24 by ariwinata and filed under | 1 Comments »

COOPERATIVE LEARNING

COOPERATIVE LEARNING : MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Marhamah*)

Abstrak
Perkembangan model pembelajaran dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan. Model-model pembelajaran tradisional kini mulai ditinggalkan berganti dengan model yang lebih modern. Salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning, karena model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman.Kata kunci : cooperative learning, berpikir kritis.

A. Pendahuluan
Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan, baik perubahan yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Slameto (1991) juga berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud amat luas, tetapi terutama yang dimaksudkan di sini adalah lingkungan pendidikan yang berupa kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar, masalah yang dihadapi seseorang cukup kompleks. Artinya, dalam belajar dipengaruhi oleh bermacam-macam hal yang saling berkaitan. Proses belajar yang dilakukan seseorang pasti akan menunjukkan gejala/proses dan hasil belajar yang berbeda-beda. Perbedaan ini bersumber pada kenyataan bahwa manusia berbeda kemampuan dalam memahami sesuatu. Jadi, sukses seseorang dalam belajar merupakan gabungan dari kesanggupannya berdasarkan potensi yang ada dalam dirinya untuk memahami sesuatu, pelajaran yang selaras, dan metode belajar mengajar yang baik. Pernyataan senada disampaikan oleh Gagne yang dikutip dalam Zachri (1989), yaitu sesungguhnya banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor-faktor tersebut dibedakan menjadi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal adalah factor yang berasal dari dalam siswa, yang meliputi : bakat, minat, motivasi, sikap, gaya belajar, dan lain-lain. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, yang meliputi : metode dalam mengajar, alat evaluasi, lingkungan belajar, media pengajaran, dan lain-lain. Dalam upaya mencapai hasil belajar yang optimal, guru dituntut untuk bisa memilih metode mengajar yang paling sesuai dengan karakteristik siswa, materi pembelajaran, dan lain-lain. Namun, kenyatannya pelaksanaan memilih metode pembelajaran masih berpola pada paradigma pembelajaran yang teacher centered belum pada student centered. Dalam model pembelajaran tradisional, untuk keberhasilan pembelajaran, guru berusaha melakukan transfer pengetahuan kepada siswa. Dalam transfer pengetahuan dan pengalaman itu siswa harus berkonsentrasi dalam mendengarkan penjelasan dan uraian guru sehingga aktivitas yang tercipta adalah D3CH (duduk, diam, dengar, catat, dan hafal) (Anita Lie, 2002). Jadi, berdasarkan penyataan-pernyataan diatas, guru perlu memikirkan bagaimana memilih metode mengajar yang bisa melayani kecepatan belajar dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Untuk bisa melayani siswa dengan berbagai karakteristiknya, banyak metode yang bisa dipilih. Dalam artikel ini akan dibahas metode mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang diharapkan menjadi salah satu alternatif penyelesaian masalah yang selama ini menjadikan siswa pasif.

B. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Pembelajaran kooperatif lebih dikenal dengan istilah cooperative learning yaitu pembelajaran berkelompok yang diselenggarakan sedemikian rupa sehingga tiap-tiap siswa terlibat setiap saat dalam kelompokknya dan siswa dapat bekerjasama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki. Slavin (1995) mengemukakan, “in cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”. Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana system belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Anita Lie (2000) menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Lebih jauh dikatakan, cooperative learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang didalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang saja. Djahiri K (2004) menyebutkan cooperative learning sebagai pembelajaran kelompok kooperatif yang menuntut diterapkannya pendekatan belajar yang siswa sentries, humanistic, dan demokratis yang disesuaikan dengan kemampuan siswa dan lingkungan belajarnya. Dengan demikian, maka pembelajaran kooperatif mampu membelajarkan diri dan kehidupan siswa baik dikelas atau disekolah. Lingkungan belajarnya juga membina dan meningkatkan serta mengembangkan potensi diri siswa sekaligus memberikan pelatihan hidup senyatanya. Jadi, cooperative learning dapat dirumuskan sebagai kegiatan pembelajaran kelompok yang terarah, terpadu, efektif-efisien, ke arah mencari atau mengkaji sesuatu melalui proses kerjasama dan saling membantu (sharing) sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif (survive). Cooperative learning ini bukan bermaksud untuk menggantikan pendekatan kompetitif (persaingan). Nuansa kompetitif dalam kelas akan sangat baik bila diterapkan secara sehat. Pendekatan kooperatif ini adalah sebagai salah satu alternatif dalam mengisi kelemahan kompetisi, yakni hanya sebagian siswa saja yang akan bertambah pintar, sementara yang lainnya semakin tenggelam dalam ketidaktahuannya. Tidak sedikit siswa yang kurang pengetahuan merasa malu bila kekuranggannya di-expose. Kadang-kadang motivasi persaingan akan menjadi kurang sehat bila para murid saling menginginkan agar siswa lainnya tidak mampu, katakanlah dalam menjawab soal yang diberikan guru. Sikap mental inilah yang dirasa perlu untuk mengalami improvement (perbaikan).

C. Unsur-unsur Dasar dalam Coperative Learning
Menurut (Lungdren, 1994), unsur-unsur dasar dalam cooperative learning adalah sebagai berikut :
1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.
2. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
4. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota kelompok.
5. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar.
7. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

D. Tujuan Cooperative Learning
Pada dasarnya model cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahim, et al. (2000), yaitu :
1. Hasil belajar akademikDalam cooperative learning meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, cooperative learning dapat memberi keuntungan, baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2. Penerimaan terhadap perbedaan individuTujuan lain model cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas social, kemampuan dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3. Pengembangan keterampilan sosialTujuan ketiga cooperative learning adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan social penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

E. Karakteristik Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerjasama dalam kelompok. Adapun karakteristik dari pembelajaran kooperatif adalah :· Pembelajaran secara tim· Didasarka pada manajemen kooperatif · Kemauan untuk bekerja sama· Keterampilan bekerja sama

F. Prosedur Pembelajaran Cooperative Learning
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu :· Penjelasan MateriTahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahamam siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim).· Belajar dalam KelompokSetelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkannya bersifat heterogen. Dalam hal kemampuan akademik, kelompok pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang (Anita Lie, 2005).· PenilaianPenilaian bisa dilakukan dengan tes atau kuis yang dilakukan secara individual maupun kelompok.· Pengakuan TimPengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.

G. Berpikir Kritis
Nama lain berpikir kritis adalah keterampilan berpikir, berpikir kreatif, ‘higher-order thinking’, ‘good thinking’, ‘thinking well’ atau ‘thinking smarter’, yaitu dapat megindentifikasi pertanyaan dan menjawab pertanyaan tersebut dengan mencari dan menelusuri pengetahuan secara mandiri dan dapat mencari bukti untuk mendukung sebuah argument. Keterampilan berargumen adalah kemampuan untuk memberikan pendapat lain terhadap pendapat orang lain dan dapat menunjukkan bukti-bukti yang mendukung maupun yang tidak mendukung pendapat tersebut. Berpikir kritis meliputi : membandingkan, menerjemahkan, mengamati, menyimpulkan dan menggolongkan; menyusun hipotesis; mengambil keputusan, mengkritik dan mengevaluasi; mendesain investigasi; mengidentifikasi asumsi; membuat kode, mengumpulkan dan menyusun data atau informasi. Ciri-ciri berpikir kritis :· Disposisi personal : mencari kebenaran, terbuka, analitis, sistematis, percaya diri, ingin tahu dan bersikap dewasa.· Terampil dalam : analisis, evaluasi, menyimpulkan, berpikir deduktif dan induktif.· Kriteria untuk evaluasi diri/orang lain : jelas, tepat, spesifik, relevan, dalam, luas dan logis. Berpikir kritis terdiri dari pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasi informasi, merencanakan aktifitas, memecahkan masalah, mengkomunikasikan informasi, bekerja sama dengan orang lain, dan menggunakan teknologi.

H. Kelebihan dan Kelemahan Cooperative Learning
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan, termasuk model pembelajaran kooperatif karena tidak ada yang paling tepat untuk dipakai pada semua karakteristik siswa, materi dan lain-lain. Kelebihan dan kelemahan cooperative learning adalah sebagai berikut :
1. Kelebihana.
a.Tidak terlalu menggantungkan pada guru atau dosen, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
b. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
d. Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e. Dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).
f. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
2. Kelemahan
a. Penilaian yang diberikan didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
b. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.
c. Walaupun kemampuan bekerjasama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual.
Oleh karena itu idealnya melalui model pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.

I. Simpulan
Untuk efektifitas dalam menyampaikan materi pelajaran, seorang guru pasti menerapkan model pembelajaran yang dirasakan paling sesuai dengan karakteristik siswanya. Banyak model pembelajaran yang bisa dipilih oleh guru, salah satu diantaranya adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Pemilihan model pembelajaran kooperatif ini bertolak dari keinginan untuk menumbuhkan kepribadian siswa yang demokratis dan sebagai alternatif pilihan dalam mengisi kelemahan kompetisi. Model ini dirancang untuk menampung perbedaan individual dalam gaya belajar, motivasi, pengetahuan, keterampilan, dan lain-lain. J. Saran Setiap jenis model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tidak ada satu pun jenis model pembelajaran yang paling tepat untuk bisa mengatasi semua jenis materi pelajaran, karakteristik siswa, kondisi kelas dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam pembelajaran jika seorang guru menerapkan berbagai model pembelajaran merupakan hal wajar justru sangat menguntungkan. Namun, berkaitan dengan model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning di atas hendaknya seorang guru mempertimbangkan apakah kelemahan model tersebut masih dapat diatasi dan ditutupi dengan kelebihan yang ada.

Daftar Pustaka
Ibrahim, M. et, all. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas negeri Surabaya Press. Isjoni. 2007. Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung : Alfabeta. Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo. Lie, Anita. 2005. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana. Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta. Slavin, R. E. 1992. Cooperative Learning. USA : Allyn and Bacon. Zachri, Abdul L. 1989. Prinsip Desain Instruksional. Jakarta : Pustaka Teknologi Pendidikan IKIP.
Posted on 01:16 by ariwinata and filed under | 1 Comments »